Art-Living Sos 2008 (A-1
Start : 1/27/2008 3:06 PM
Finihs : 1/27/2008 9:54 PM
SEPANJANG USIA….
“Panjang umurnya…panjang umurnya…panjang umurnya…serta muliaaa….”
Itu adalah potongan lagu standar ulang tahun yang selalu kita nyanyikan ketika seseorang, atau kita sendiri berulang tahun. Dari kecil…sampai remaja…dan berlanjut sampai saat ini…kita selalu berdoa semoga diberi umur yang panjang.
Umur…Apakah artinya ?
Umur yang panjang…umur yang pendek…apakah maknanya ?
*
Ketika masih kecil, saya suka sekali berulang tahun. Kalau boleh ulang tahun setiap bulan kayaknya asyik juga. Bagi seorang anak, ulang tahun hanya bermakna satu. Makan-makan atau pesta yang extra-ordinary…Itu bagi yang terbiasa memperingati dan merayakannya bersama keluarga. Bagi yang tidak biasa memperingati atau merayakannya, ulang tahun hanya diketahui ketika pendaftaran di sekolah. Atau ketika mengurus surat-surat kependudukan yang membutuhkan data pribadi termasuk data kelahiran.
Ulang tahun bagi saya selalu menggembirakan. Selain ada makanan khusus yang pasti disediakan oleh ibu saya, kadang-kadang itu juga pertanda bahwa saya sudah bertambah umur dan sudah boleh sekolah. Soalnya dulu tuh saya udah pengen sekolah…terutama sekolah TK yang di dekat rumah, yang ada perosotan sama ayunannya. Tapi kata ibu saya, ntar aja…tunggu kalau sudah ulang tahun. Nah, itulah gunanya ulang tahun…biar bisa sekolah.
Ngomong-ngomong soal ulang tahun, ada beberapa hari ulang tahun cukup berkesan buat saya. Yang saya ingat, ketika ulang tahun kelima. Di sekolah
Ulang tahun lain yang saya ingat lagi adalah yang ke sepuluh. Ini pas ulang tahun, pas lebaran. Dan sedihnya, saya lagi nggak bisa kumpul sama orangtua. Ayah dan ibu saya tugas di
Masih ada lagi ulang tahun yang berkesan. Yaitu ulang tahun yang keduabelas. Berkesan karena pada saat itu saya demam…panas sekali. Tidak ada pesta ulang tahun. Tidak ada teman-teman yang datang berkunjung. Saya terkapar manis di tempat tidur di rumah Eyang saya selama beberapa hari. Dan hadiahnya saya mendapat sebuah buku cerita dari tante saya. Judulnya Panji Semirang. Waaah…seru banget. Ulang tahun, sakit, dapat buku. Jadi lupa deh dengan penyakitnya…
Urusan ulang tahun masih berlanjut.
Sekarang saya sudah masuk umur remaja. Kali ini ulang tahun yang ketigabelas. Saya baru masuk kelas satu SMP. Huaaah…telat banget, ya ? Maklum…jaman itu ada pergeseran waktu kenaikan kelas. Jadi saya rugi waktu setengah tahun perpanjangan masa sekolah. Tapi mau dibilang apa lagi ? Itu peraturan pemerintah saat itu…Jadilah…umur saya pun sudah cukup ‘matang’ untuk jadi remaja…Kenapa saya ingat ulang tahun ini ? Lagi-lagi ada kejutan buat saya.
Setelah itu saya tidak lagi merayakan ulang tahun, karena selalu jatuh pada saat liburan sekolah atau apalah. Saya lupa. Pokoknya tidak ada acara khusus ataupun pesta ulang tahun. Baru kemudian ketika saya berulang tahun ke enambelas, ada kejadian yang membuat hidup saya berbunga-bunga.
Pada hari ulang tahun saya, kebetulan itu adalah hari pertama masuk SMA. Dan saat itu saya melihat seorang cowok yang cuteeeee…banget. Saya terbengong beberapa detik. Menatapnya dengan penuh takjub. Lalu jantung saya ikutan berdebar tidak karuan. Dalam sekejap dunia saya serasa begitu indah. Rasa-rasanya sih saya jatuh cinta beneran. Mungkin itu yang disebut ‘cinta pada pandangan pertama’…hehehe…Tapi hanya sampai di situ. Saya nggak pernah jadian sama cowok itu. Kami bahkan nyaris tidak pernah saling bersapa . Baru setelah beberapa waktu akhirnya kami bisa berteman biasa.
Nah…ada lagi ulang tahun yang berkesan. Yang ke delapan belas. Nah…ini yang hebat. Bukan yang ketujuh belas. Soalnya yang ketujuhbelas sih biasa saja, buat saya. Memang sih ada acara makan bersama dengan keluarga. Tapi teman-teman saya tidak ada yang khusus. Seseorang yang dekat dengan saya pun biasa-biasa saja, kalau tidak mau disebut menyebalkan. Jadilah…ulang tahun ketujuhbelas tidak dimasukkan ke dalam daftar khusus…hmmm…
Pada saat ulang tahun ke delapan belas, kebetulan jatuh di hari Minggu. Sehari sebelumnya seorang teman dengan iseng menulis di papan tulis di kelas. “Besok datang, ya beramai-ramai , ke rumah si Sri…( itu nama resmi saya di sekolah)..
Betul saja…pada jam makan siang teman-teman saya sudah datang. Dan bukan hanya teman sekelas. Mereka datang dengan gang masing-masing. Untung saja ibu saya sudah biasa menghadapi gerombolan seperti itu. Biasanya ibu saya memang menyediakan stok bahan makanan lebih banyak terutama kalau akhir minggu…(Oya…ibu saya punya usaha catering kecil-kecilan…hi hi hi). Jadi dalam sekejap, ibu saya sudah dapat menyiapkan makanan untuk begitu banyak orang…Hmmm…alhamdulillah !
Setelah ulangtahun ke delapan belas, saya pergi merantau ke
*
Waktu berlalu. Saya tidak lagi merayakan hari ulang tahun saya secara khusus. Ulang tahun keduapuluh dua itu adalah titik balik kehidupan saya. Setelah itu waktu berjalan lambat. Dan saya nyaris tidak sempat berpikir…apakah masih ada satu tahun lagi untuk saya memperingati ataupun merayakannya.
Saya mulai serius menghadapi hidup. Mulai berpikir tentang karier. Mulai berpikir tentang masa depan. Dan begitulah…tiba-tiba semua berjalan di luar rencana. Di luar skenario. Saya hanya bisa bergulir. Mengikuti air dan angin.
Tiba-tiba saja saya sudah menikah. Sudah memiliki anak. Dan sudah memiliki karier yagn berjalan seperti air. Kadang lancar. Kadang tersendat. Saya tidak lagi melihat ulang tahun sebagai sebuah perayaan, tapi lebih sebagai peringatan. Sebagai prasasti untuk membuat perenungan.
Lalu tibalah usia , yang kata orang merupakan ‘awal kehidupan’. Empat puluh tahun. Huuuh…sungguh mengerikan ! Kenapa sih orang harus menyebutnya sebagai awal kehidupan ? Jadi selama ini, apa yang sudah kita dilakukan ?
Saya menapaki umur empat puluh tahun dengan harap-harap cemas. Dan ternyata…empat puluh sama saja dengan umur tiga puluh. Malah dalam beberapa hal, saya lebih sehat dan lebih bahagia di usia kepala empat ini.
Empat puluh, memang seperti pagar. Atau selokan. Sekali kita berhasil melaluinya dengan penuh percaya diri…maka tahun-tahun yang berjalan di depannya pun dapat kita lalui dengan penuh percaya diri pula. Itulah yang saya rasakan.
Sejak itu, saya selalu menunggu datangnya hari. Menyambut datangnya minggu dan bulan dengan penuh harap. Menunggu tahun berikutnya datang menjelang. Melihat ke belakang…dengan penuh rasa syukur. Menatap ke depan dengan penuh semangat dan rasa penasaran…Apalagi yang akan terjadi ?
Hari ini…waktu yang panjang sudah menjadi bagian hidup saya. Jalan yang panjang dan berliku sudah menjadi bagian dari seluruh upacara ulang tahun saya. Tapi setiap kali, selalu ada kejadian yang patut dikenang…ada yang lucu…ada yang tragis…
Sungguh semuanya tidak ternilai. Sungguh…semua hari yang telah saya lalui sangat sarat dengan makna. Sungguh semua ulang tahun penuh dengan peringatan dan merupakan hadiah bagi kehidupan saya…
Hari ini saya bersyukur…karena masih dapat melihat ke masa lalu…dan menuliskan semua perasaan saya mengenai hari ulang tahun…
Ietje