Dear Allz…
Met pagiiiii….met hari Minggu…Udah bangun semua ??? Kok sepi ? Kecapean acara kemaren yaaa…?? Hehehe…
Hmmm…mumpung hari Minggu nih…mumpung libur…dan cuaca sedang cerah ceria…saya mau berbagi pengalaman kemaren. Cerita sedikit saja…tentang perjalanan saya ke masa lalu…melalui perjalanan ke Kota Tua.
Hmm…kalau teman dan sahabat semua punya waktu…ayo deh sesekali jalan ke
Selamat menikmati…selamat berleha-leha…
Salam hangat di hari ceria…
Ietje
Art-Living Sos 2008 (A-4.27.01
Start : 4/27/2008 6:13 AM
Finish : 4/27/2008 7:30 AM
SATU HARI DI MASA LALU…
Hmmm….masih
Sebetulnya acara ini dimaksud untuk ‘mencambuki’ saya , yang punya janji kepada teman-teman untuk segera membukukan tulisan-tulisan saya. Beberapa sahabat sudah ‘pegel hati’ melihat saya yang kumat lemotnya dalam urusan penerbitan buku ini. “Apalagi sih yang ditunggu ?” begitu komentar sahabat-sahabat saya. Dari yang bertanya dengan nada lembut membujuk, sampai yang judesnya minta ampyuuunn.
Yeah…saya sendiri nggak tahu, apa yang ditunggu. Semua proses sudah pernah saya lakukan, untuk orang lain. Dari mulai mengumpulkan tulisan. Edit tulisan. Membuat desain. Membuat kata pengantar dan sekapur sirih. Menghubungi penerbit. Final editing di percetakan sampai jatuh terguling dari kursi saking semangatnya kerja ( dan becanda juga siiichhh…maklum kalau sudah setres kelakuan
Nah, dalam rangka memenuhi janji itulah akhirnya seorang sahabat mengusulkan untuk berkumpul saja, di suatu tempat yang bisa menggugah semangat saya. Tempat yang dipilih adalah suatu monumen masa lalu ( ya..iyalah…kalau monumen itu mesti dari waktu lampau), yaitu Museum Mandiri di daerah Jakarta Kota.
♥
Barangkali banyak teman dan sahabat yang belum tahu apa itu Museum Mandiri? Nah, sekalian saja niiiih…Itu adalah Museum perbankan, yang didirikan oleh Bank Mandiri dengan bank-bank yang merger di dalamnya, yaitu Bank Exim, Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo). Gedung museum Mandiri itu sendiri adalah bekas gedung Bank Exim di daerah Jakarta Kota, persis berseberangan dengan Stasiun Jakarta Kota – atau lebih ngetop dengan sebutan Beos. Kawasan Museum Mandiri ini sekarang menjadi kawasan wisata
Hmm…lanjut cerita !
Setelah berjanji sana-sini dengan beberapa teman, akhirnya yang ‘dong’ untuk ngumpul hanya beberapa orang. Maklum namanya orang
Saya dan seorang sahabat sudah janjian di Blok M. Kami mengambil jalan praktis, naik bus Transjakarta – Busway dari Blok M ke
Jadilah…selama perjalanan itu kami ngobrol kian kemari. Tentang buku, tentang beberapa metoda pelatihan dan terapi yang baru ( gini deh kalau teman seperjalanan itu ada hubungannya dengan pengembangan manusia…teteeeep aja topiknya nggak geser-geser…hehe), tentang karier, tentang manusia…waaawww….seru aja deh. Sampai akhirnya kami tiba di halte terakhir busway, di depan Stasiun Kota. Dari situ , melalui jalan terowongan yang baru, kami langsung menuju ke Museum Mandiri.
Di depan pintu, kami disambut oleh seorang Satpam yang ramah sekali. Rupanya mereka melihat kami berdua seperti anak hilang di pasar malam. Celingak-celinguk seperti orang bingung. Dan dengan ramah pula Pak Satpam itu mempersilakan kami masuk ke dalam gedung, tanpa dipungut biaya. Alias gratis ! Waawww….luar biasa.
Ternyata di
♥
Sekarang perjalanan ke masa lalu dimulai.
Saya dan sahabat-sahabat saya mulai celamitan. Lihat kiri lihat kanan. Dan semua sibuk menikmati hal-hal yang berkesan bagi kami masing-masing. Kami mulai menelusuri segala ruang yang ada di gedung tua yang dibangun pada jaman pemerintah Belanda dulu. Oya…Museum Bank Mandiri ini dulunya bernama Nederlandsch Indische Handelsbank. Asli masih bangunan buatan jaman tahun rikiplik. Bahkan banyak tulisan-tulisan tempo doeloe yang masih asli, semisal Twede verdieping, yang artinya tingkat kedua…hehe… Banking hall yang kokoh dan gagah masih berdiri seperti aslinya. Beberapa perabotan yang dulu dipergunakan oleh Bank Exim juga masih ada. Bahkan ruang menuju tempat penyimpanan uang yang memiliki pintu seperti kerangkeng juga ada. Huuaaah…ada rasa kagum dan merinding juga, karena ini adalah sejarah perbankan Indonesia di masa lalu. Yang masih terpelihara dengan baik dan dapat dinikmati oleh masyarakat umum maupun banker seperti saya… Hal yang paling berkesan bagi saya, selain bangunan yang memang luar biasa ini adalah pernak-pernik perjalanan transaksi perbankan yang melalui proses metamorfosis begitu panjang. Dari jaman perbankan masih dianggap sebagai sebuah institusi sakral yang tertutup dan sarat dengan kemegahan masa lalu hingga perjalanannya memasuki dunia perbankan elektronik dan dapat diakses dari seluruh dunia. Saya terharu melihat mesin tik model jaman dahulu kala yang bersanding dengan komputer generasi awal yang sekarang juga sudah tidak diproduksi lagi oleh pabrik-pabriknya…hmmm… Berjalan melalui lorong-lorong dan menelusuri ruang-ruang kerja, ruang rapat Direksi, gudang tempat penyimpanan, ruang tunggu di gang…kita seperti terlempar sejenak ke masa lalu. Membayangkan, di sini dulu berseliweran para banker dan klerek bank dengan pakaian yang serba formal dan berwajah kaku. Yang hidupnya dari angka ke angka. Dari transaksi keuangan harian ke jurnal-jurnal laporan keuangan yang tebal dan luasnya selebar gambar peta dunia… ♥ Saya kembali ke masa kini. Kepada kegembiraan hari ini. Apalagi kalau bukan acara foto-fotoan…heheeh…Dasar namanya orang-orang narsis. Di lorong-lorong…di ruang-ruang yang penuh sejarah…di tangga berlantai keramik tempo doeloe…kami mengambil beberapa sesi foto yang gayanya pasti berbeda dengan gaya orang bank tempoe doeloe..hehe…Ini siiiih…gaya turis asli. Apalagi kalau sudah jalan dengan teman yang memang urat malunya suka on-off…Yang jelas, pasti fotonya fenomenal sekali… Oya…selain di Museum Mandiri…kami juga sempat jalan sedikit di sekitar kawasan wisata Kota Tua lainnya. Saya dan sahabat kembaran jiwa saya, si Nonce itu, juga sempat keliling-keliling berboncengan naik sepeda onthel yang kami sewa dari Mang Ojek sepeda ( yang terpaksa lari-larian menyusul kami yang hilir mudik di antara gedung-gedung tua di sana ). Menggoda pasangan yang sedang melakukan sesi foto untuk Pre-Wedding…hehe ( kok jahilnya nggak sembuh-sembuh siich ??)…dan membantu orang yang mau difoto tapi nggak ada yang bisa motretin. Akhirnyaaaa…setelah pegel jalan ke sana ke mari, kami pun terdampar di ujung Kota Tua. Nongkrong di tempat makan legendaries di CafĂ© Batavia yang masih menyediakan makanan tempoe doeloe. Tapi kami siiih kembali ke menu anak kos saja…hahaha…dan saya hanya punya satu pilihan, yaitu kwetiaw goreng…(ini sih makanan pilihan pertama dan terakhir kalau saya makan di luar…hihihi…dasar anak Medan , ya?). Jam 16.00…kami sudah ngantuuuuk dan lemes ! Setelah singgah sebentar ke Museum Fatahillah yang sudah ditutup untuk umum ( kami masuk dari pintu belakang…Cuma lihat-lihat halaman belakang saja), kami pun pulang. Masih tersiksa sebentar dan mandi keringat di antrean bus Transjakarta yang saat itu memang sedang banyak penumpangnya. Lalu setelahnya…kami hanya mampu terkantuk-kantuk duduk di dalam bus yang membelah Jakarta dengan segala kemacetannya di akhir pekan. Saya turun di Dukuh Atas, Sudirman…lalu…melanjutkan perjalanan lagi dengan KRL AC menuju Bintaro…(beruntung juga masih ada keretaapi yang lewat..). Menuju ke rumah yang sudah menunggu dengan kehangatannya… ♥ Huaaaahhhh….perjalanan yang melelahkan…tapi luar biasa berkesan. Semua pengalaman hari ini meresap pelan…melalui pori-pori yang tadi penuh keringat…melalui semua indra yang berfungsi hari ini…melalui sebuah tali persahabatan yang terikat lembut di dalam hati… Satu halaman buku kehidupan saya terisi lagi. Dan barangkali bisa menjadi catatan di dalam buku yang akan segera terbit beberapa saat lagi…hmmm..
♥♥♥
Salam persahabatan di hari Minggu yang ceria…
Ietje S. Guntur
Special note : Thanks bangeeeet…buat sahabat-sahabat seperjalananku…Nonce tersayang ( hidup dengan kamu itu penuh warna bangeeett…), Tami, mas Adith, mas Tyo….(hehehe…baru tahu kalau kita ini setengah…hmmm)…Semoga perjalanan ini jadi catatan indah dalam hidup kita…