Senin, 21 April 2008

Nonton film The Tarix Jabrix

Senin. 21 April 2008

Dear Allz….

Udah, ya…cerita Kartininya. No commentlah…hehehe…

Mo cerita aja nih kegiatanku hari ini…yang asyiiiiik banget. Entah berkaitan dengan hari Kartini or tidak…tapi hari ini aku ngambil cuti…pengen istirahat, setelah berbulan-bulan mengalami ‘tekanan’ mental akibat disuruh ujian sertifikasi…hahaha…maklum emak-emak, disuruh ngapalin peraturan dan prosedur segitu panjang….hikksss…mana tahaaaaannnn….Belum apa-apa udah mules duluan…

Niat semula sih mau nyantai aja di rumah, sambil reparasi body yang udah pegel-pegel melulu. Dan hedonisme ala rumahan pun udah terlaksana sampai sekitar jam 09.30…nggak mandi…nggak sarapan…Cuma gular-gulir aja di tempat tidur sambil baca buku Habis Gelap Terbitlah Terang, tulisannya Armijn Pane – yang gaya bahasanya masih gaya bahasa Melayu kuno. Seru aja. Refreshing…

Eeeeh…tiba-tiba ada seorang sahabat bilang, dia mau ke Citos. Waaawww…Senin nih. Citos. Ada hubungannya nggak sama nomat ? Alias nonton hemat . Secepat kilat aku mandi….huuuhhhh…dingin banget lagi…soalnya mendungnya udah kayak mau hujan. Dan secepat kilat juga manggil taksi….untuk berangkat ke Citos…hehehe…

Jam 10.30 udah nyampe di Citos….eeeeh…Sahabatku lagi bersantap, baso yang hangat. Waaah…pas banget. Aku juga kan belum sempet sarapan tadi. Jadi ikutanlah nimbrung…makan kwetiaw goreng dulu…(busyeeettt…standar banget !!!).

Abis makan…sambil nurunin isi perut, ya ngobrol dulu…sambil ngopi-ngopi. Lumayan adalah beberapa seri cerita yang keluar…hehehe…(Nonce, Arif..Aan…jangan sirik !!!). Trus kepikiran…gimana kalo nonton aja. Waaah…tawaran yang mengasyikkan. Jadi deeeh…sama Sahabatku itu kami ke 21, dan ngantri. Bingung juga mau pilih film apa. Film yang satu, Sahabatku itu udah nonton. Film yang dua lagi gak jelas gitu. Apalagi yang film Pocong-pocongan…males banget. Biarpun bagus…iiiihhh…gak selera deh.

Jadi kita milih film yang aneh bin ajaib. Judulnya The Tarix Jabrix. Aku belum baca resensinya. Maklum…belum apa-apa udah males aja. Tapi kebetulan tadi pagi aku baca tabloid, dan aku lihat salah seorang pemainnya adalah pemusik (atau pe-ngeband) indie Changcuters dari Bandung. Selintas ada juga ceritanya, tapi ya gitu deeeh…Cuma bilang bahwa film ini seperti promosi juga buat band asal Bandung itu.

Aku sama Sahabatku itu ya asal masuk aja. Gak punya ekspektasi apa-apa. Yang penting nonton murah meriah. Limapuluh ribu berdua udah pake popcorn sama aqua…hehehe….

Tapiiii…apa yang terjadi ???

Dari mulai duduk dan menatap layar lebar, kami sudah mulai ketawa. Asli ketawa, karena penyajian filmnya emang lucu bangeeeet.

Akting kelima personil band Changcuters itu juga alamiah banget. Asli seperti anak Bandung yang tengil dan sok tahu…(hahaha…jadi inget temen-temen jaman kuliah dulu, ya tengil kayak gitu…). Termasuk tokoh utama Tria Changcut…yang tampangnya juga biasa-biasa saja…dan jauh dari ganteng ukuran standard sinetron.

Ceritanya, kelima anak muda itu ( di situ mereka adalah siswa SMA Jayagiri, Bandung) ingin menjadi anggota salah satu geng motor. Ini merupakan kebanggaan anak-anak muda Bandung. Dan ternyata dalam seleksinya mereka gagal total. Tria misalnya, yang memerankan tokoh Cacing, malah takut menjadi anggota geng motor itu karena salah satu syaratnya harus melawan orangtua. Cacing takut kualat seperti Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu…(dia membayangkan dirinya dikutuk jadi arca…hehehe).

Lalu setelah mereka semua gagal seleksi, Cacing mengusulkan agar mereka mendirikan geng motor sendiri. Dan terpilihlah nama Tarix Jabrix. Tarix atau tarik, dalam bahasa gaul Bandung adalah kencang. Jadi Tarix Jabrix itu mungkin si Jabrik ( rambut Cacing dimodel seperti jabrik berdiri gitu) yang kencang larinya.

Dalam perjalanannya Tarix Jabrix bertemu dengan geng motor lainnya, yang pada saat itu paling ngetop di Bandung, yaitu Smokers. Ketua gengnya Max, adalah kakak Calista, cewek cakep murid SMA Jayagiri. Satu sekolah dengan Cacing. Dan diam-diam ditaksir oleh Cacing.

Ada perbedaan prinsip dan penampilan antara geng Tarix Jabrix dan Smokers. Kalau Smokers adalah geng motor anak orang kaya dengan tampilan motor mewah seri terbaru, sedangkan geng Tarix hanya memiliki motor seadanya. Bahkan si kembar Ciko dan Coki hanya punya vespa butut tahun 1964. Sedangkan Mulder alias Mulya Drajat, tidak punya motor, dan terpaksa meminjam motor supir bokapnya tiap kali mau ngumpul. Sama mirisnya dengan Dadang, yang motornya butut abis, walaupun dia punya keahlian sebagai montir motor karena ayahnya adalah pemilik bengkel Sugema.

Selain penampilan yang sudah jauh berbeda, mereka juga memiliki prinsip yang berbeda juga. Kalau Smokers ( dan umumnya geng motor lainnya) cenderung melanggar aturan lalulintas dan sok jagoan, maka geng Tarix harus taat lalulintas (termasuk harus punya SIM) dan sopan kepada masyarakat. Ini diperlihatkan mereka ketika salah satu si kembar Ciko-Coki tidak punya SIM dan mereka bersama-sama menemani untuk mengurus ujian SIMnya ke kantor polisi ( dan saking gembiranya…mereka malah menggendong Pak Polisi beramai-ramai). Juga ketika ada seorang nenek yang menyeberang di zebra cross, mereka menunggu dengan sabar sampai Sang Nenek menyeberang…( tapi akhirnya Sang Nenek digendong supaya cepat sampai di tempat…hahaha…kebayang nggak nenek yang sudah sangat sepuh digotong oleh 5 pemuda yang tadinya naik motor ??).

Ada lagi adegan yang bikin sakit perut ketawa…ketika Cacing yang berhasil ‘merayu’ Calista untuk diantar pulang, dan di jalan mereka bertemu dengan seorang banci pengamen. Sang Banci yang centil menyanyi di tengah jalan dengan lagu plesetan yang emang lucu banget. Dan sialnya…ketika akan membayar pengamen itu, Cacing kehabisan uang di kantongnya. Sementara lampu stopan sudah menyala hijau, dan Cacing harus jalan. Tapi si Betty si banci tidak terima. Ia membajak motor seorang bapak yang sedang membonceng anaknya, lalu menguber Cacing dan Calista. Bayangkan….banci se Bandung yang menjadi teman Betty ikutan memburu Cacing-Calista.

Mau tau lanjutan ceritanya ?????

Yaccch…nonton ajalah filmnya. Pasti lebih seru. Bukannya mau promosi, tapi ini memang film yang apa adanya. Sederhana. Mudah dicerna. Tapi di dalamnya banyak pesan moral yang dibawa. Di antaranya adalah geng motor, walaupun sudah sampai taraf meresahkan masyarakat ( geng motor Bandung selama beberapa tahun terakhir sudah menjadi geng kriminal yang mampu bertindak sadis tanpa alasan yang jelas)…tapi di dalam film ini adalah geng yang anti narkoba ( great…ini pesan moral yang bagus).

Selain itu ada pesan tentang kesetiakawanan. Sportivitas. Keberuntungan yang tidak diduga ( ketika Cacing balapan motor dengan Valdin untuk memperebutkan Calista, dan tenyata Valdin bisa kalah…gara-gara…hhmmm…gak usah disebut…ntar gak penasaran). Dan terakhir ada pesan motivasi yang dalam sekali yaitu : dari zero ke hero !

Oya…film ini selain dibintangi oleh bintang-bintang yang nggak ganteng (seperti Tria cs) juga ada bintang ganteng dan bintang cantiknya, yaitu Carissa Putri dan Francine. Jadi seimbanglah…Suasana kota Bandung yang asli semrawut juga digambarkan dengan manis. Pokoknya sudut pengambilan oke…nggak berlebihan…juga tokoh tambahan yang jadi pemanis seperti cewek gendut yang centil, Banci dan teman-temannya tampil dalam porsi yang seimbang.

Wwoooiiiii…..udah dulu, yaaa….Mau mengingat-ingat lagi adegan lucunya…dan adegan yang bikin jantung berdebar-debar…juga adegan yang bikin airmata menetes pelan…wuuuaaaaaaahhhhh….Mo nonton sekali lagi aacccchhh….biar mantab !!!

Salam hangat,

Ietje

NB : Thanks ya, Dith…udah puas ketawa tadi…nih perut masih mules gara-gara ketawa melulu…

Tidak ada komentar: