Ini adalah sahabat saya, Ellina. Dia adalah sahabat saya sejak di SD di Medan dulu. Kami pernah sebangku, dan ternyata itu menjadi bencana bagi seluruh kelas. Soalnya kami ngobrol melului. Bikin hitungan ngobrol. Bikin tugas ngobrol. Guru sampai heran dan kesal, kok kami nggak bisa diam sebentar saja. Ketika disetrap, disuruh berdiri di atas bangku, kami cuek saja...dan terus saja ngobrol. Dipindahkan...disetrap berdua di depan kelas, kami tetap masih ngobrol. Disuruh keluar kelas, kami masih ngobrol juga...nggak ada habis-habisnya...
Ketika SMP kami pisah sekolah...tapi tetap saja berangkat atau pulang sekolah saya menunggui dia di jalan...lalu kami ngobrol lagi. Yang heran, rumah kami bukannya tetanggaan, tapi jaraknya lumayan jauh juga. Saya harus naik sepeda ke rumahnya . Tapi tidak apa-apa, demi ketemu dia...dan ngobrol apa saja.
Ketika SMP kami pisah sekolah...tapi tetap saja berangkat atau pulang sekolah saya menunggui dia di jalan...lalu kami ngobrol lagi. Yang heran, rumah kami bukannya tetanggaan, tapi jaraknya lumayan jauh juga. Saya harus naik sepeda ke rumahnya . Tapi tidak apa-apa, demi ketemu dia...dan ngobrol apa saja.
Saat SMA, kami satu sekolah lagi, tapi beda kelas. Itu tidak menjadi halangan bagi kami untuk tidak ngobrol forever. Yang mengherankan, kegiatan kami tidak ada yang sama. Saya aktif olahraga dan berenang, dia sukanya menyalin lagu dan menyanyi. Saya suka jalan-jalan naik sepeda kemana-mana, dia lebih suka duduk-duduk di teras rumah sambil membaca. Saya suka menjahit, dia suka memasak. Saya suka menulis, dia tidak. Saya rada-rada ganjen, dia sangat alim. Nah...kenapa kami bisa nyambung ?
Sambungan kami ini memang aneh. Cita-cita kami sangat berbeda. Dia pernah ingin jadi dokter seperti ayahnya, sedangkan saya tidak pernah ingin jadi dokter atau berdekatan dengan dokter (kecuali lagi sakit, dan terpaksa harus konsultasi). Saya ingin jadi geolog yang bekerja di lapangan, tapi dia malas kerja di lapangan (katanya panas !) . Akhirnya ketika memilih bidang kuliah pun kami sama kacaunya ! Kami pernah sama-sama daftar ke fakultas teknik (dengan harapan bisa kuliah bareng...satu kampus, satu jurusan), tapi sama-sama fail. Dia kemudian sempat masuk fakultas kedokteran, sebelum kemudian ikut tes lagi di ITB dan diterima. Saya sendiri sempat mengembara dulu kian kemari, dan akhirnya terdampar di Psikologi Unpad...hehehe...
Saat ini dia jauh di Surabaya sana. Saya tetap di Jakarta. Tapi kebiasaan ngobrol...masih berjalan terus. Dan kalau kami berdua sudah bertemu, maka seluruh dunia akan berhenti di sekitar kami...Hanya ada kami berdua...he he...
Sampai hari ini saya tidak pernah tahu, kenapa saya bisa bersahabat dengan Lina...yang notabene sangat berbeda dengan saya. Saya pun tidak habis pikir, apa saja sih yang kami obrolkan selama bertahun-tahun itu ?
Apa pun...dia adalah hadiah yang paling indah dalam kehidupan saya. Lina , barangkali memang dikirim Tuhan untuk melengkapi sisi lain kehidupan saya agar menjadi seimbang. Bayangkan, berapa tahun dia harus menyediakan telinganya untuk mendengarkan ocehan saya yang tidak pernah berhenti ini ?
Thanks God...sudah memberi saya seorang Lina...
Thanks Lin...sudah menjadi sahabat saya dalam kurun waktu yang sangat amat lama...
Love U...
Ietje (yang selalu kau panggil 'Mik')...
Sambungan kami ini memang aneh. Cita-cita kami sangat berbeda. Dia pernah ingin jadi dokter seperti ayahnya, sedangkan saya tidak pernah ingin jadi dokter atau berdekatan dengan dokter (kecuali lagi sakit, dan terpaksa harus konsultasi). Saya ingin jadi geolog yang bekerja di lapangan, tapi dia malas kerja di lapangan (katanya panas !) . Akhirnya ketika memilih bidang kuliah pun kami sama kacaunya ! Kami pernah sama-sama daftar ke fakultas teknik (dengan harapan bisa kuliah bareng...satu kampus, satu jurusan), tapi sama-sama fail. Dia kemudian sempat masuk fakultas kedokteran, sebelum kemudian ikut tes lagi di ITB dan diterima. Saya sendiri sempat mengembara dulu kian kemari, dan akhirnya terdampar di Psikologi Unpad...hehehe...
Saat ini dia jauh di Surabaya sana. Saya tetap di Jakarta. Tapi kebiasaan ngobrol...masih berjalan terus. Dan kalau kami berdua sudah bertemu, maka seluruh dunia akan berhenti di sekitar kami...Hanya ada kami berdua...he he...
Sampai hari ini saya tidak pernah tahu, kenapa saya bisa bersahabat dengan Lina...yang notabene sangat berbeda dengan saya. Saya pun tidak habis pikir, apa saja sih yang kami obrolkan selama bertahun-tahun itu ?
Apa pun...dia adalah hadiah yang paling indah dalam kehidupan saya. Lina , barangkali memang dikirim Tuhan untuk melengkapi sisi lain kehidupan saya agar menjadi seimbang. Bayangkan, berapa tahun dia harus menyediakan telinganya untuk mendengarkan ocehan saya yang tidak pernah berhenti ini ?
Thanks God...sudah memberi saya seorang Lina...
Thanks Lin...sudah menjadi sahabat saya dalam kurun waktu yang sangat amat lama...
Love U...
Ietje (yang selalu kau panggil 'Mik')...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar