Art-Living Sos 2007 (A-11
Start : 11/6/2007 9:10 PM
Finish :11/6/2007 10:22 PM
Edit : 11/11/2007 12:18 PM
Oh..My RADIO
When I was young I’d listened to the radio
Waiting for my favorite song
Waiting they played I’d sing along
It made me smile……
Sebait lagu lama dari Carpenters mengalun lembut di radio mobil saya. Melemparkan saya ke masa lalu. Masa remaja. Saat itu, sedang musim-musimnya siaran radio swasta, yang beken dengan nama radio amatir.
Mulai dari stasiun radio resmi yang berbadan hukum dan memiliki organisasi teratur, hingga stasiun radio eksperimen yang antenanya dicantelkan di ujung dahan pohon. Semua seru. Buat para pendengar sih …yang penting bisa pesan lagu, kirim salam, dan mendengarkan nama kita disebut-sebut oleh penyiar…hehehe…
Sebagai ‘remaja gaul’ tempo doeloe…( hi hi hi…padahal rasanya belum lama lho )…saya juga pernah terseret arus, walaupun tidak sampai tergila-gila, berkirim lagu lewat radio amatir ini. Biasanya, jaman dulu itu, caranya adalah kita datang ke stasiun radio. Ambil kupon untuk kirim lagu. Diisi : dari siapa, untuk siapa, lagunya apa, yang nyanyi siapa, dan pesan atau salamnya apa.
Biasanya sih dari kita untuk teman-teman yang akrab, atau kadang…( hmm…) buat seseorang yang sedang ditaksir…(siapa bilang jaman dulu nggak ada urusan taksir menaksir dan keceng-mengeceng…Cuma caranya agak-agak norak gitu deeeh ). Kemudian lagunya, ya lagu yang sedang masuk dalam daftar Top 40. Dan pesannya…hi hi hi… lucu-lucu banget. Khas ABG jaman itu.
Kalau saya sih, ngaku aja, kadang agak ketinggalan jaman soal kirim-kiriman lagu ini. Daftar Top 40 aja nggak hafal. Lagu udah basi dari bulan lalu belum mudheng juga. Bahkan buku catatan lagu saya kadang Cuma terisi separo, karena saya nggak bisa cepat mendengar, mencatat, dan mensinkronisasikannya dalam lagu. Urusan lagu yang kacau balau sih udah jadi trade-merk saya. Jadi, supaya saya nggak ngawur melulu, teman-teman sekelas dengan sukarela akan menyalinkan lagu di buku catatan saya. Itupun sulit banget menghafalnya…he he he…
Itu baru urusan lagu. Belum lagi urusan pesan-memesan dan salam-salaman. Berhubung saya jarang banget mendengarkan radio ( …soalnya saya lebih suka kelayapan naik sepeda di jalanan, atau nongkrong di pinggir lapangan bola dengan para satria baja hitam…), jadi ya nggak tahu harus bagaimana kirim salam untuk seseorang. Paling banter, dan paling top salam saya berkisar seputar Salam Kompak Selalu…ha ha ha…Itu pun kalau sampai ada yang dengar, saya akan maluuuuu banget !
*
Urusan saya dengan radio baru terasa ketika jaman kuliah. Saat itu di
Sssttt…bukan hanya itu alasannya. Alasan utama adalah radio itu beroperasi selama 24 jam sehari. Sementara stasiun radio lain, sudah closing the door pada jam 24.00. Pas saatnya mata mengantuk dan tugas kuliah sudah menjerit-jerit untuk digarap. Jadi radio mahasiswa itu memang satu-satunya pilihan, satu-satunya teman di saat kita sedang suntuk menghadapi tugas kuliah dan jadwal ujian yang lumayan ketat. Bahkan di saat sedang bebas tugas sekalipun, radio dengan stasiun favorit ini akhirnya menjadi salah satu penghibur hati menjelang tidur.
Sejak saat itu juga saya jadi terbiasa tidur dengan radio transistor di bawah bantal. Rasanya nggak enak aja kalau tidur tanpa suara gemerisik di sela-sela lagu yang ditayangkan. Padahal tahun-tahun sebelumnya, saya hanya bisa tidur kalau suasana hening senyap.
Kebiasaan mendengarkan radio, di luar siaran berita, akhirnya menempel terus menjadi salah satu bagian hidup saya. Apalagi kalau acaranya menarik, entah itu lagu yang enak, talkshow yang asyik, atau cerita bersambung yang memikat. Bisa-bisa norak saya kumat mendadak. Saat belajar, ya radio ada di depan hidung. Saat sedang masak di dapur (jarang banget sih…paling bikin telor ceplok matasapi) radio ada di sisi kiri. Saat sedang sibuk mencuci ( ya iyalah…namanya juga anak kos) radio ada di dekat ember. Bahkan saat kebelet…lagi kepengen ke kamar mandi, ya radio sedapat mungkin juga digantung di dekat pintu...Pokoknya seru dan nggak mau ketinggalan siaran !
Seharusnya, dengan ke-mania-an saya terhadap radio, saya mestinya hafal dong dengan nama orang, nama lagu, dan paling tidak nama penyiarnya. Tapiiiii…mohon maaf, saya ini hanya penikmat. Bukan pengingat ! Saya bisa hafal nada suara orang, tapi jangan ditanya itu siapa. Hari ini ingat, besok sudah lenyap lagi dari ingatan. Kecuali saya pernah bertemu muka dengan orang itu, maka akan sulit sekali buat saya mengingat-ingat apa pun yang berkaitan dengan suara. Itu sebabnya, saya juga nggak pernah bisa hafal sebuah lagu secara utuh dari atas hingga akhir…he he..he
*
Belakangan, ketika saya sudah bekerja, sudah berkeluarga, dan sudah memiliki si Cantik yang manis, kebiasaan mendengarkan radio datang dan pergi. Tidak bisa seperti dulu.
Bagaimana mungkin saya bisa mendengarkan dengan khusyuk, kalau si Cantik saya juga berebut perhatian. Malah dia suka sekali bermain-main dengan radio transistor kecil yang saya belikan, bukan untuk didengar lagunya, tapi untuk dicabuti tombolnya dan digigit-gigit setiap bagian yang mungkin bisa dimasukkan ke dalam mulutnya. Akhirnya, radio itu hening total setelah semua baterainya dibuang. Antenanya patah menjadi beberapa bagian. Dan terakhir, seluruh badan radio itu sudah menjadi remah-remah yang tidak karuan.
Tahun-tahun berjalan tanpa terasa. Kepemilikan saya atas radio pun tidak sepenuhnya lagi. Setelah si Cantik mengerti lagu, maka dialah yang merasa berhak untuk menyetel dan memilih saluran radio. Dan pasti pilihannya berganti-ganti. Saya sampai pusing mendengarnya. Akhirnya memilih diam saja. Menikmati sepuluh lagu dalam 5 menit !
Bukan hanya dia. Sang Pangeran Penguasa Remote Control pun mempunyai kegemaran yang sama. Kalau tidak berebut remote control tivi, ya rebutan tombol radio untuk memilih stasiun radio kesukaannya. Saya baru enak-enak mendengar lagu slow-rock dari grup Queen atau Rod Stewart…eeeh…tiba-tiba Sang Pangeran datang dan rretttt…reetttt… lagu sudah berganti dengan lagu sendu dari abad pertengahan ! Hiiiksss…
Selera saya langsung punah ! Semangat untuk berjingkrak-jingkrak langsung padam. Dan mendadak ingin bersimpuh. Radio pun saya tinggalkan.
*
Ngomong-ngomong soal radio, sebenarnya sejak radio diciptakan dan terus disempurnakan , kita memang sulit untuk terlepas dari pengaruhnya. Apa pun dan kapanpun kita bisa mendengarkan siaran radio. Dengan teknologi sederhana seperti jaman radio amatir dulu, hingga teknologi canggih sekelas radio negeri Kanguru atau BBC London, tetap saja kita membutuhkan sarana komunikasi ini. Selain simpel dan bisa dibawa ke mana saja, radio pun tidak terlalu membutuhkan perawatan yang rumit.
Buat orang seperti saya, yang gampang lupa dan susah ingat sepotong lagu, teknologi radio yang sederhana akan sangat membantu. Apalagi akhir-akhir ini, ketika teknologi ponsel sudah memasukkan fasilitas radio ke dalam perangkatnya, gairah saya meningkat lagi.
Dalam perjalanan, bila radio mobil tidak berfungsi sempurna, atau siarannya tidak sesuai selera, maka saya akan menancapkan earphone ke dalam gendang telinga. Dan menikmati musik ataupun siaran talkshow kesukaan saya. Hmm…memang agak egois juga sih. Tapi kadang-kadang kita perlu juga kok punya keinginan sendiri…ha ha ha…
Radio memang bukan sekedar teman saat ini. Tak sekedar mengingatkan pada saat-saat penuh kenangan, radiopun bermanfaat dalam banyak situasi. Situasi senang, situasi susah, situasi bingung, situasi darurat, bahkan ketika sedang sendirian di dalam perjalanan.
Saya jadi ingat secuplik kenangan ketika terjadi gempa di Jogyakarta, tanggal 27 Mei 2006 lalu. Saat saya sedang bertugas di
Jadiiii…kalau sedang bosan dan nggak tau mesti ngapain…kenapa tidak coba mendengarkan radio saja ? Mendingan suara gemerisik di bawah bantal…daripada sunyi sendiri…Iya khaaan ?
**)*^*(**
Ietje S. Guntur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar