Ini sih buat ngetes pengisian blog dulu...biar terbiasa dulu dengan posting seperti ini. Karena akan banyak sekali postingan pribadi yang akan masuk ke mari.
IetjeArt-Living 2004
Start : Kamis – 5 Agustus 2004
COCA COLA RASA TEH !
Kalau disuruh memilih : mau teh atau cocacola ? Pasti dong cocacola. Terutama di hari-hari panas, paling enak minum cocacola dingin, atau cocacola pakai es. Ingat saja iklan cocacola jaman dulu : “Di mana saja, kapan saja, siapa saja…Minum cocacola”. Atau yang belakangan :” It’s a real thing..coca cola.”
Pstt…ini bukan iklan minuman ringan lho. Eh, tapi ngomong-ngomong, sudah pernah mencoba coca cola rasa teh ?
Saya jadi ingat, ketika masih bekerja sebagai koordinator penerbitan majalah Astek. Perusahaan kami – selaku pengelola inhouse magazine , selalu memberikan uang makan seminggu sekali, setiap hari Jum’at. Nah, pada saat itu biasanya kami – staf redaksi dan produksi akan berpestapora makan makanan yang lebih mewah dari hari-hari biasanya. Kalau sehari-hari menu kami paling banter sekitar nasi rames dari warteg atau nasi
Selain itu minumannya pun ‘disesuaikan’ dengan suasana kantong yang sedang meriah. Senin sampai Kamis, minuman kami hanyalah aqua jatah kantor atau tehh botol yang dibeli dari warung depan kantor. Kalaupun ada tukang es cincau yang lewat, kami akan gotong royong memberi satu gelas untuk berdua atau bertiga. Irit. Paket hemat. Pada masa itu cocacola masih tergolong minuman ‘papan atas’ bagi kami. Dan hanya muncul pada saat-saat istimewa, termasuk the great Friday tadi.
Nah, suatu hari – bukan hari Jum’at – saya dan Indi, teman saya mendapat tugas meliput suatu berita di tempat yang sama. Sudah tempatnya jauh, jalan menuju ke
Dengan lunglai dan lesu kami masuk kembali ke kantor, langsung ke ruang redaksi. Eh, siapa sangka, di situ ada sebotol cocacola. Dingin pula ! Sebelum kami sempat bertanya, tiba-tiba Sahat – salah seorang reporter, masuk sambil tertawa-tawa,” Lihat nih, cocacola…Asyiik !”
Huh, sebel banget ! Dia nih sudah dikenal rada-rada pelit ( bener
Tiba-tiba ada telepon dari boss untuk dia, dari saluran khusus di luar ruangan. Buru-buru dia ke luar. Dan kami, secepat kilat melompat, menyedot sedikit cocacolanya. Bukan hanya kami berdua. Yani dan Tiar – reporter dan fotografer kami juga ikut-ikutan. Alhasil cocacolanya tinggal setengah botol.
Yani yang pertama kali menyadarinya. “Eh, mati nih. Kalau si Sahat lihat cocacolanya habis, pasti dia ngamuk !”
“Hihihi…tambahi air saja ,” usul Indi.
“Jangan. Nanti warna cocacolanya pucat. Campur tehh saja. Nih, biar warnanya sama,” sambung Tiar sambil menuangkan tehh ke dalam botol cocacola.
Tak lama kemudian Sahat masuk lagi ke ruangan. Masih sambil tertawa-tawa. Kami pura-pura sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Yani menyumpal telinganya dengan headphone dari tape recorder, dan pura-pura sibuk membuat transkrip hasil wawancara. Indi membongkar koleksi foto-fotonya pura-pura sibuk mencari foto untuk pelengkap bahan artikel. Tiar – yang tiap hari membongkar pasang kameranya, sibuk mencoba lensa baru yang bisa ‘long zoom’. Saya sendiri cepat-cepat duduk di depan komputer, tekun dengan artikel yang akan diedit untuk naik cetak.
“Jm…cocacola nih. Siapa mau ? Siapa mau ? Tak usyah, yaa..Belinya saja jauh. Sorry , nih…minum sendiri….,” Sahat mengangkat botol cocacolanya, dan mulai meneguk isinya ( kami berdebar-debar, menunggu reaksinya).
Seteguk ! Tenang. Berarti aman ( dia belum ‘ngeh’). Dua teguk ! Sahat terdiam. Mulai melirik, ke kiri kanan . (Curiga ?).
“Heh…kok cocacolanya aneh ? Rasa tehh !”. Sahat berkomentar, sambil mengangkat botol cocacolanya tinggi-tinggi. Mengamati cairan di dalamnya.
“Jangan-jangan emang udah kadaluarsa !” celetuk Indi ( sambil memasang tampang serius. Dia memang ahlinya memasang wajah dingin ).
“ Apa ? Nggak mungkin !” Sahat membantah. Menatap kami semua.
Tiba-tiba Yani terkikik melihat ekspresi Sahat.
“Wah, jangan-jangan gua dikerjain nih !” seru Sahat . ( Panik ).
“ Yan, kamu , ya ? Kamu minum cocacola gua ?” (Nuduh ).
“Ihh..enak aja ! Bukan aku yang ngabisin . Aku Cuma nyedot seteguk.” Yani mengaku, dengan suara lemah ( biasaa…minta dikasihani ).
“Ngg…aku juga satu sedotan.” Giliran Indi buka suara. Saya menoleh dari pojok – tempat komputer dipool.
“ Sorry, Hat. Aku tadi juga ikut ngisep sedikit. Abisnya haus banget.” Saya akhirnya mengaku juga.
“Hehehe….tak apa-apalah , Hat. Bagi-bagi. Aku juga mendahului…” Tiar ketawa-ketawa sambil mengaku dosa.
“Trus, siapa yang mencampur dengan tehh ?” Sahat mengusut kami semua. (Matanya melotot, serem deh !).
Kami saling berpandangan. Lalu serentak, saling menunjuk dan berseru ,” DIA !!”
Sahat terbengong. Menatap kami satu persatu. Dan tanpa dikomando, kami tertawa terbahak-bahak .***
Ietje S. Guntur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar