Senin, 26 November 2007

Art-Living Day 2007 (A-11 Setangkai bunga

Senin, 26 November 2007

Bulan November selalu membawa kenangan yang indah dan sedih sekaligus.

Tahun lalu, aku mengenal Someone Nice, dan sekaligus kehilangan dia. Kemudian aku kenal Benk, yang menjadi sahabat baikku...

Tahun ini...dalam beberapa minggu bulan November begitu banyak peristiwa yang terjadi. Ada minggu penuh sepi. Ada minggu penuh cinta. Ada minggu penuh penantian.

Hari ini ada yang aneh...seseorang dari dunia entah di mana muncul...dan mengirimkan gambar setangkai bunga lengkap dengan puisinya...Aku bingung juga. Dia siapa ? Tapi aku nggak mau mikirin itu siapa...karena hatiku belum lagi terbuka...Hanya...lucu saja...

Ietje

Senin, 12 November 2007

Hari ini...kawan lama...kawan baru

Senin, 12 November 2007

Hari ini aku jalan dengan seorang kawan lama. Kami memang agak lama juga nggak jumpa, sehingga aku pikir perjalanan ini akan menyenangkan. Tapi rupanya aura kami hari ini sedang tidak akur, jadi kami saling diam saja kecuali teguran pertama ketika bertemu. Sesudah itu dia sibuk dengan telepon 'morning greetings'nya...dan menganggap aku cuma lalat yang hinggap di daun keladi.

Gapapa...aku juga lagi males ngomong. Jadi sampai kami berpisah di pagi ini, kami tidak berbicara apa pun lagi. Sungguh...sopan banget !

Lalu siangnya aku buka email...eeeh...ada email dari kawan baru. Dan lebih surprise lagi...kawan baru ini juga telepon ke kantor. Ngobrol jugalah...beberapa saat.

Senang rasanya punya kawan lama yang autis dan kena penyakit gagu. Senang juga punya teman baru yang atensi dan mau telepon duluan...

Begitulah hari ini...aku nggak tau mesti bagaimana. Tapi aku berbahagia...punya teman-teman yang mengisi hidupku dengan berbagai warna.

Ietje

Sabtu, 10 November 2007

Art-Living Day 2006 Sebuah Bingkai

Art-Living Day 2006-10-03

SEBUAH BINGKAI....

Sebuah bingkai menjadi batas

Antara maya dan realita

Sebuah bingkai menjadi tanda

Antara kemarin dan hari ini...

Hanya ruang dan waktu

Milik kita

Hanya ruang maya tanpa batas

Menjadi tempat kita

Tapi di sana...

Di dalam bingkai itu

Aku melihatmu...apa adanya

Di dalam bingkai itu

Aku merasakanmu...seperti mimpi kita...

Sebuah bingkai hanyalah tanda

Sebuah bingkai adalah cerita

Tentang awal

Perjalanan kita ...

Jakarta, 3 Oktober 2006

Ietje

Just for : Someone You Know Who

MENUNGGU AKU

Menunggu aku

Di sini

Dalam bingkai waktu

Yang terentang

Di antara kita

Menunggu aku

Dalam ketidakpastian

Tentang

Sebuah harapan

Dan kekecewaan

Menunggu aku

Sekali lagi

Tanpa sempat mengukir

Jejak yang tertinggal

Jakarta, 3 Oktober 2006-10-03

Ietje

For someone who haven’t any commitment...

BINGKAI WAKTU...

Tertegun aku di situ

Di bingkai waktu pagi itu

Dan menatapmu

Yang diam

Membisu...

Entah pagi ke berapa

Hari itu

Ketika kita seiring jalan

Tanpa mengucapkan salam

Bahkan senyuman

Lalu ketika pagi telah bergeser

Bersama derit roda kereta api

Kau menatap dalam hening

Dan mengikuti langkahku

Hanya satu kata

Yang merekat pertemuan kita

Pagi itu

Lalu sepi

Dan hari ini

Tertegun lagi aku di situ

Tapi bayanganmu

Tak lagi muncul menungguku...

Jakarta, 16 Oktober 2006-10-16

Ietje

For Some One Nice who has a misterious smile...

Time : 16/10/2006 11:01

MASIH ADAKAH...

Ketika pagi

Telah membingkai waktu

Dan kau berdiri

Diam

Menatapku

Tak ada senyuman

Hanya wajah yang kelelahan

Lalu langkah yang berpisah

Dan sebuah pintu

Yang mengantarai

Hanya sebuah tatapan

Serta tandatanya

Apakah besok

Masih ada kau

Di sana

Lalu kita saling berpaling

Mengambil langkah masing-masing

Kau ke kanan

Aku ke kiri

Berpisah kita di sini

Tanpa pernah tahu

Apakah masih ada waktu

Untuk kita

Saling membingkai hati

Jakarta, 31 Oktober 2006-10-31

Ietje

For Someone nice who has no name...

Time : 31/10/2006 14:45

SEPAGUT RINDU

Sudah berlalu

Satu pagi lagi

Ketika aku berbekal harap

Melangkah

Mencari bayangmu...

Sudah berlalu

Satu siang lagi

Ketika tidak ada harap

Untuk melihatmu

Menatapku....

Masih akan berlalu

Berapa pagi lagi

Untuk aku dapat

Menyentuh bayangmu...

Masih akan menganga jendela hati

Ketika rinduku

Tak berpagut

Dengan asamu...

Jakarta, 31 Oktober 2006-10-31

Ietje

Just for...Someone Nice in the break morning...

Time : 31/10/2006 15:06

SEBUAH RINDU

Sebuah rindu adalah harapan

Sebuah rindu adalah kehidupan

Seperti

Saat aku menatapmu

Dalam perjumpaan

Sebuah rindu adalah semangat

Sebuah rindu adalah getar yang hangat

Ketika aku

Melihatmu dalam kelembutan

Embun pagi hari

Sebuah rindu adalah asa

Sebuah rindu adalah nuansa

Yang membawa langkahku

Menjemputmu

Dalam rindu tak berbatas.....

Jakarta, 31 Oktober 2006

Ietje

Just for Someone who makes me breath again...

SEBUAH RESAH YANG ASA

Ada resah yang tertinggal

Ketika tirai hujan memisahkan kita

Ada rindu yang menganga

Ketika malam berpaling

Dan kita terpisah oleh jarak tak terjangkau

Masihkah ada

Sebuah gambaran nyata

Seperti ketika

Kita bertatap di siang mendung itu

Masihkah ada

Sebuah kecup yang hangat

Seperti saat kita

Berpisah di sore basah itu

Entah apa yang terjadi

Ternyata

Masih ada resah

Dan rasa tidak percaya

Ketika semua itu bukan maya

Kini....

November sudah datang

November sudah pergi

Hanya asa yang mengikat aku di sini

Jakarta, 5 Desember 2006-12-05

Ietje

For Someone who gave me support for survival...

Menunggumu...

Haruskah kutanyakan

Ketika kau dia tak terlihat

Di antara kisi-kisi

Yang membatasi perjalanan kita

Haruskah kutunggu

Ketika waktu tak lagi bersahabat

Dan aku harus beranjak

Haruskah kubiarkan

Semua berlalu

Dan aku

Tersentak penuh rindu

Ietje

Jakarta, 6 Desember 2006-12-06

For someone who makes me to be patient...

Cerita Tentang Pagi

Pupus sudah rasa resah

Dan rindu yang membingkai

Minggu ini...

Pupus sudah rasa gelisah

Saat menunggumu

Di sudut tempat kita bertemu...

Pupus sudah rasa rindu

Ketika matahari malu-malu

Mengantar bayanganmu

Menatapku

Di antara deru kereta

Yang tak sabar menunggu

Lalu

Semua mengalir seperti air

Yang berpendar

Di bawah mentari pagi

Lalu

Semua berpacu

Seperti detik yang berkejaran

Menjelang titik akhir

Lalu

semua larut

Dalam senyum

Paling indah pagi ini....

Jakarta, 7 Desember 2006

Ietje

For someone who takes my hand in the morning...

Art-Living 2007 (A-11 Oh My Radio

Art-Living Sos 2007 (A-11

Start : 11/6/2007 9:10 PM
Finish :11/6/2007 10:22 PM
Edit : 11/11/2007 12:18 PM

Oh..My RADIO

When I was young I’d listened to the radio

Waiting for my favorite song

Waiting they played I’d sing along

It made me smile……

Sebait lagu lama dari Carpenters mengalun lembut di radio mobil saya. Melemparkan saya ke masa lalu. Masa remaja. Saat itu, sedang musim-musimnya siaran radio swasta, yang beken dengan nama radio amatir.

Mulai dari stasiun radio resmi yang berbadan hukum dan memiliki organisasi teratur, hingga stasiun radio eksperimen yang antenanya dicantelkan di ujung dahan pohon. Semua seru. Buat para pendengar sih …yang penting bisa pesan lagu, kirim salam, dan mendengarkan nama kita disebut-sebut oleh penyiar…hehehe…

Sebagai ‘remaja gaul’ tempo doeloe…( hi hi hi…padahal rasanya belum lama lho )…saya juga pernah terseret arus, walaupun tidak sampai tergila-gila, berkirim lagu lewat radio amatir ini. Biasanya, jaman dulu itu, caranya adalah kita datang ke stasiun radio. Ambil kupon untuk kirim lagu. Diisi : dari siapa, untuk siapa, lagunya apa, yang nyanyi siapa, dan pesan atau salamnya apa.

Biasanya sih dari kita untuk teman-teman yang akrab, atau kadang…( hmm…) buat seseorang yang sedang ditaksir…(siapa bilang jaman dulu nggak ada urusan taksir menaksir dan keceng-mengeceng…Cuma caranya agak-agak norak gitu deeeh ). Kemudian lagunya, ya lagu yang sedang masuk dalam daftar Top 40. Dan pesannya…hi hi hi… lucu-lucu banget. Khas ABG jaman itu.

Kalau saya sih, ngaku aja, kadang agak ketinggalan jaman soal kirim-kiriman lagu ini. Daftar Top 40 aja nggak hafal. Lagu udah basi dari bulan lalu belum mudheng juga. Bahkan buku catatan lagu saya kadang Cuma terisi separo, karena saya nggak bisa cepat mendengar, mencatat, dan mensinkronisasikannya dalam lagu. Urusan lagu yang kacau balau sih udah jadi trade-merk saya. Jadi, supaya saya nggak ngawur melulu, teman-teman sekelas dengan sukarela akan menyalinkan lagu di buku catatan saya. Itupun sulit banget menghafalnya…he he he…

Itu baru urusan lagu. Belum lagi urusan pesan-memesan dan salam-salaman. Berhubung saya jarang banget mendengarkan radio ( …soalnya saya lebih suka kelayapan naik sepeda di jalanan, atau nongkrong di pinggir lapangan bola dengan para satria baja hitam…), jadi ya nggak tahu harus bagaimana kirim salam untuk seseorang. Paling banter, dan paling top salam saya berkisar seputar Salam Kompak Selalu…ha ha ha…Itu pun kalau sampai ada yang dengar, saya akan maluuuuu banget !

*

Urusan saya dengan radio baru terasa ketika jaman kuliah. Saat itu di Bandung ada radio mahasiswa ITB, yang bernama 8 EH. Walaupun saya tidak kuliah di republik gajah ganeca itu, tapi kalau untuk urusan stasiun favorit, 8 EH adalah pilihan utama. Bukan sekedar koleksi lagu-lagunya yang selalu terkini dan enak di dengar, tapi penyiarnya juga asyik punya..he he he..Bisa sampai terbayang-bayang juga …(padahal wajahnya belum tentu seasyik suaranya ya…hik hik).

Sssttt…bukan hanya itu alasannya. Alasan utama adalah radio itu beroperasi selama 24 jam sehari. Sementara stasiun radio lain, sudah closing the door pada jam 24.00. Pas saatnya mata mengantuk dan tugas kuliah sudah menjerit-jerit untuk digarap. Jadi radio mahasiswa itu memang satu-satunya pilihan, satu-satunya teman di saat kita sedang suntuk menghadapi tugas kuliah dan jadwal ujian yang lumayan ketat. Bahkan di saat sedang bebas tugas sekalipun, radio dengan stasiun favorit ini akhirnya menjadi salah satu penghibur hati menjelang tidur.

Sejak saat itu juga saya jadi terbiasa tidur dengan radio transistor di bawah bantal. Rasanya nggak enak aja kalau tidur tanpa suara gemerisik di sela-sela lagu yang ditayangkan. Padahal tahun-tahun sebelumnya, saya hanya bisa tidur kalau suasana hening senyap.

Kebiasaan mendengarkan radio, di luar siaran berita, akhirnya menempel terus menjadi salah satu bagian hidup saya. Apalagi kalau acaranya menarik, entah itu lagu yang enak, talkshow yang asyik, atau cerita bersambung yang memikat. Bisa-bisa norak saya kumat mendadak. Saat belajar, ya radio ada di depan hidung. Saat sedang masak di dapur (jarang banget sih…paling bikin telor ceplok matasapi) radio ada di sisi kiri. Saat sedang sibuk mencuci ( ya iyalah…namanya juga anak kos) radio ada di dekat ember. Bahkan saat kebelet…lagi kepengen ke kamar mandi, ya radio sedapat mungkin juga digantung di dekat pintu...Pokoknya seru dan nggak mau ketinggalan siaran !

Seharusnya, dengan ke-mania-an saya terhadap radio, saya mestinya hafal dong dengan nama orang, nama lagu, dan paling tidak nama penyiarnya. Tapiiiii…mohon maaf, saya ini hanya penikmat. Bukan pengingat ! Saya bisa hafal nada suara orang, tapi jangan ditanya itu siapa. Hari ini ingat, besok sudah lenyap lagi dari ingatan. Kecuali saya pernah bertemu muka dengan orang itu, maka akan sulit sekali buat saya mengingat-ingat apa pun yang berkaitan dengan suara. Itu sebabnya, saya juga nggak pernah bisa hafal sebuah lagu secara utuh dari atas hingga akhir…he he..he

*

Belakangan, ketika saya sudah bekerja, sudah berkeluarga, dan sudah memiliki si Cantik yang manis, kebiasaan mendengarkan radio datang dan pergi. Tidak bisa seperti dulu.

Bagaimana mungkin saya bisa mendengarkan dengan khusyuk, kalau si Cantik saya juga berebut perhatian. Malah dia suka sekali bermain-main dengan radio transistor kecil yang saya belikan, bukan untuk didengar lagunya, tapi untuk dicabuti tombolnya dan digigit-gigit setiap bagian yang mungkin bisa dimasukkan ke dalam mulutnya. Akhirnya, radio itu hening total setelah semua baterainya dibuang. Antenanya patah menjadi beberapa bagian. Dan terakhir, seluruh badan radio itu sudah menjadi remah-remah yang tidak karuan.

Tahun-tahun berjalan tanpa terasa. Kepemilikan saya atas radio pun tidak sepenuhnya lagi. Setelah si Cantik mengerti lagu, maka dialah yang merasa berhak untuk menyetel dan memilih saluran radio. Dan pasti pilihannya berganti-ganti. Saya sampai pusing mendengarnya. Akhirnya memilih diam saja. Menikmati sepuluh lagu dalam 5 menit !

Bukan hanya dia. Sang Pangeran Penguasa Remote Control pun mempunyai kegemaran yang sama. Kalau tidak berebut remote control tivi, ya rebutan tombol radio untuk memilih stasiun radio kesukaannya. Saya baru enak-enak mendengar lagu slow-rock dari grup Queen atau Rod Stewart…eeeh…tiba-tiba Sang Pangeran datang dan rretttt…reetttt… lagu sudah berganti dengan lagu sendu dari abad pertengahan ! Hiiiksss…

Selera saya langsung punah ! Semangat untuk berjingkrak-jingkrak langsung padam. Dan mendadak ingin bersimpuh. Radio pun saya tinggalkan.

*

Ngomong-ngomong soal radio, sebenarnya sejak radio diciptakan dan terus disempurnakan , kita memang sulit untuk terlepas dari pengaruhnya. Apa pun dan kapanpun kita bisa mendengarkan siaran radio. Dengan teknologi sederhana seperti jaman radio amatir dulu, hingga teknologi canggih sekelas radio negeri Kanguru atau BBC London, tetap saja kita membutuhkan sarana komunikasi ini. Selain simpel dan bisa dibawa ke mana saja, radio pun tidak terlalu membutuhkan perawatan yang rumit.

Buat orang seperti saya, yang gampang lupa dan susah ingat sepotong lagu, teknologi radio yang sederhana akan sangat membantu. Apalagi akhir-akhir ini, ketika teknologi ponsel sudah memasukkan fasilitas radio ke dalam perangkatnya, gairah saya meningkat lagi.

Dalam perjalanan, bila radio mobil tidak berfungsi sempurna, atau siarannya tidak sesuai selera, maka saya akan menancapkan earphone ke dalam gendang telinga. Dan menikmati musik ataupun siaran talkshow kesukaan saya. Hmm…memang agak egois juga sih. Tapi kadang-kadang kita perlu juga kok punya keinginan sendiri…ha ha ha…

Radio memang bukan sekedar teman saat ini. Tak sekedar mengingatkan pada saat-saat penuh kenangan, radiopun bermanfaat dalam banyak situasi. Situasi senang, situasi susah, situasi bingung, situasi darurat, bahkan ketika sedang sendirian di dalam perjalanan.

Saya jadi ingat secuplik kenangan ketika terjadi gempa di Jogyakarta, tanggal 27 Mei 2006 lalu. Saat saya sedang bertugas di kota itu. Satu-satunya alat komunikasi yang berfungsi adalah radio sementara sinyal telepon seluler dan jaringan telepon sudah on-off. Dan beruntung sekali, ponsel saya ketika itu sudah dilengkapi dengan radio sehingga saya dan teman-teman dapat mengikuti perkembangan situasi dari menit ke menit. Sungguh sangat membantu.

Jadiiii…kalau sedang bosan dan nggak tau mesti ngapain…kenapa tidak coba mendengarkan radio saja ? Mendingan suara gemerisik di bawah bantal…daripada sunyi sendiri…Iya khaaan ?

**)*^*(**

Jakarta, 6 November 2007

Ietje S. Guntur

Art - 2004 Coca Cola Rasa Teh

Art-Living 2004

Start : Kamis – 5 Agustus 2004

COCA COLA RASA TEH !

Kalau disuruh memilih : mau teh atau cocacola ? Pasti dong cocacola. Terutama di hari-hari panas, paling enak minum cocacola dingin, atau cocacola pakai es. Ingat saja iklan cocacola jaman dulu : “Di mana saja, kapan saja, siapa saja…Minum cocacola”. Atau yang belakangan :” It’s a real thing..coca cola.”

Pstt…ini bukan iklan minuman ringan lho. Eh, tapi ngomong-ngomong, sudah pernah mencoba coca cola rasa teh ?

Saya jadi ingat, ketika masih bekerja sebagai koordinator penerbitan majalah Astek. Perusahaan kami – selaku pengelola inhouse magazine , selalu memberikan uang makan seminggu sekali, setiap hari Jum’at. Nah, pada saat itu biasanya kami – staf redaksi dan produksi akan berpestapora makan makanan yang lebih mewah dari hari-hari biasanya. Kalau sehari-hari menu kami paling banter sekitar nasi rames dari warteg atau nasi padang tanpa rendang ( karena harganya lebih mahal), maka khusus pada hari Jum’at kadang-kadang kami patungan makan-makan di restoran. Atau, paling tidak kami mengumpulkan uang dan membeli makanan yang agak mahal..hehehe..

Selain itu minumannya pun ‘disesuaikan’ dengan suasana kantong yang sedang meriah. Senin sampai Kamis, minuman kami hanyalah aqua jatah kantor atau tehh botol yang dibeli dari warung depan kantor. Kalaupun ada tukang es cincau yang lewat, kami akan gotong royong memberi satu gelas untuk berdua atau bertiga. Irit. Paket hemat. Pada masa itu cocacola masih tergolong minuman ‘papan atas’ bagi kami. Dan hanya muncul pada saat-saat istimewa, termasuk the great Friday tadi.

Nah, suatu hari – bukan hari Jum’at – saya dan Indi, teman saya mendapat tugas meliput suatu berita di tempat yang sama. Sudah tempatnya jauh, jalan menuju ke sana dan kembali ke kantor macet pula. Ditambah cuaca panas terik, dan AC mobil tidak bisa berfungsi penuh. Sudah lengkaplah penderitaan. Sudah terbayang-bayang, sesampainya di kantor kami mau membeli tehh botol dingin. Waahh…pasti segar banget ! Tapi nggak taunya, hari itu si Ibu warung sedang ikut pengajian di rumahnya. Warungnya ditutup sampai sore. Alamaak…malang nian nasib ini.

Dengan lunglai dan lesu kami masuk kembali ke kantor, langsung ke ruang redaksi. Eh, siapa sangka, di situ ada sebotol cocacola. Dingin pula ! Sebelum kami sempat bertanya, tiba-tiba Sahat – salah seorang reporter, masuk sambil tertawa-tawa,” Lihat nih, cocacola…Asyiik !”

Huh, sebel banget ! Dia nih sudah dikenal rada-rada pelit ( bener kan, Hat ?). Jadi nggak mungkinlah minta cocacolanya.

Tiba-tiba ada telepon dari boss untuk dia, dari saluran khusus di luar ruangan. Buru-buru dia ke luar. Dan kami, secepat kilat melompat, menyedot sedikit cocacolanya. Bukan hanya kami berdua. Yani dan Tiar – reporter dan fotografer kami juga ikut-ikutan. Alhasil cocacolanya tinggal setengah botol.

Yani yang pertama kali menyadarinya. “Eh, mati nih. Kalau si Sahat lihat cocacolanya habis, pasti dia ngamuk !”

“Hihihi…tambahi air saja ,” usul Indi.

“Jangan. Nanti warna cocacolanya pucat. Campur tehh saja. Nih, biar warnanya sama,” sambung Tiar sambil menuangkan tehh ke dalam botol cocacola.

Tak lama kemudian Sahat masuk lagi ke ruangan. Masih sambil tertawa-tawa. Kami pura-pura sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Yani menyumpal telinganya dengan headphone dari tape recorder, dan pura-pura sibuk membuat transkrip hasil wawancara. Indi membongkar koleksi foto-fotonya pura-pura sibuk mencari foto untuk pelengkap bahan artikel. Tiar – yang tiap hari membongkar pasang kameranya, sibuk mencoba lensa baru yang bisa ‘long zoom’. Saya sendiri cepat-cepat duduk di depan komputer, tekun dengan artikel yang akan diedit untuk naik cetak.

“Jm…cocacola nih. Siapa mau ? Siapa mau ? Tak usyah, yaa..Belinya saja jauh. Sorry , nih…minum sendiri….,” Sahat mengangkat botol cocacolanya, dan mulai meneguk isinya ( kami berdebar-debar, menunggu reaksinya).

Seteguk ! Tenang. Berarti aman ( dia belum ‘ngeh’). Dua teguk ! Sahat terdiam. Mulai melirik, ke kiri kanan . (Curiga ?).

“Heh…kok cocacolanya aneh ? Rasa tehh !”. Sahat berkomentar, sambil mengangkat botol cocacolanya tinggi-tinggi. Mengamati cairan di dalamnya.

“Jangan-jangan emang udah kadaluarsa !” celetuk Indi ( sambil memasang tampang serius. Dia memang ahlinya memasang wajah dingin ).

“ Apa ? Nggak mungkin !” Sahat membantah. Menatap kami semua.

Tiba-tiba Yani terkikik melihat ekspresi Sahat.

“Wah, jangan-jangan gua dikerjain nih !” seru Sahat . ( Panik ).

“ Yan, kamu , ya ? Kamu minum cocacola gua ?” (Nuduh ).

“Ihh..enak aja ! Bukan aku yang ngabisin . Aku Cuma nyedot seteguk.” Yani mengaku, dengan suara lemah ( biasaa…minta dikasihani ).

“Ngg…aku juga satu sedotan.” Giliran Indi buka suara. Saya menoleh dari pojok – tempat komputer dipool.

“ Sorry, Hat. Aku tadi juga ikut ngisep sedikit. Abisnya haus banget.” Saya akhirnya mengaku juga.

“Hehehe….tak apa-apalah , Hat. Bagi-bagi. Aku juga mendahului…” Tiar ketawa-ketawa sambil mengaku dosa.

“Trus, siapa yang mencampur dengan tehh ?” Sahat mengusut kami semua. (Matanya melotot, serem deh !).

Kami saling berpandangan. Lalu serentak, saling menunjuk dan berseru ,” DIA !!”

Sahat terbengong. Menatap kami satu persatu. Dan tanpa dikomando, kami tertawa terbahak-bahak .***

Jakarta, 10 Agustus 2004

Ietje S. Guntur

Tentang Waktu

Minggu, 11 November 2007

Rasanya waktu begitu cepat bergulir. Hari ini sudah setahun berlalu, ketika Angin November bertiup dalam kelembutan. 365 hari berlalu, dan begitu banyak yang terjadi selama itu.

Kehidupanku pun seperti air mengalir. Ada teman dan sahabat baru. Ada Lina dan Nonce. Juga ada Mr Trebor. Lalu ada yang mengambang seperti ular kadut, si Bolot. Ada yang tertinggal di masa lalu, Benk dan Someone Nice. Lalu ada yang berusaha nongol kembali, You Know Who dalam format baru sebagai seorang sahabat. Oke...semua so nice. Ada yang tetap menggelitik pemikiranku, Bukik. Woowww...ternyata hidup begitu penuh warna.

Hari ini juga aku akan diskusi dengan Wishnu...si Mr Trebor, or siapalah itu. Semoga jadi hubungan kemitraan yang baik dan lancar. Aku kepengen punya teman yang nyaman dan nggak pamrih. Bisa nggak ya ? Soalnya cukup satu si Bolot saja yang bikin puyeng hidupku. Yang menyedot energi jiwa dan spiritualku.

Jadi sekarang, aku mau jalan dengan tenang saja...di lorong waktu yang tak bertepi...

Jakarta, 11 November 2007

Ietje